Bagian 2 : Meningkatkan Kemampuan Berbicara
Ragam Elemen Berbicara Efektif
Dalam berbicara, orang tidak asal mengucapkan kata. Kecakapan seseorang dalam berbicara justru menentukan efektif atau tidak efektifnya komunikasi. Seorang guru yang tidak menguasai materi pelajaran akan gagap di depan siswa-siswanya. Demikian pula, siswa-siswa akan kesulitan memahami materi pelajaran yang disampaikan guru tersebut. Di lain hal, seorang penjual akan kesulitan menjual produknya apabila ia tidak menguasai produknya dan seni dalam bernegosiasi. Begitulah pentingnya sebuah kecakapan dalam komunikasi.
Perlu diketahui bahwa sebuah komunikasi tidak akan berhasil jika pelaku komunikasi tidak memiliki kecakapan berbicara. Kecakapan berbicara ini merupakan jalan seseorang dapat melakukan kegiatan berbicara secara efektif. Sementara itu, berbicara yang efektif adalah alat untuk menyampaikan ide atau gagasan atau pesan atau informasi agar dipahami secara menyeluruh oleh lawan bicara.
Sebagaimana yang telah dipaparkan pada paragraf sebelumnya dapat dikatakan bahwa berbicara efektif sebenarnya tidak berdiri sendiri. Terdapat beragam elemen berbicara agar komunikasi itu bisa berlangsung efektif. Itu artinya, berbicara efektif bukanlah kegiatan asal membunyikan kosakata dari oralnya. Sebab, kegiatan asal-asalan tersebut akan sulit memberi pemahaman kepada orang lain tentang informasi yang disampaikannya.
Pada pembahasan ini kita akan mempelajari apa saja elemen dalam berbicara yang efektif itu agar kita mengetahui, memahami dan bisa mempraktikkan cara berbicara yang efektif. Berikut ini disajikan kelengkapan atau elemen dalam berbicara efektif agar kita dapat memanfaatkannya untuk melakukan berbicara yang efektif.
A. Pesan atau Informasi
Pengertian mendasar yang perlu kita pahami bahwa proses berbicara akan terjadi apabila terdapat tiga unsur yang saling membangun itu ada dalam proses berbicara. Unsur tersebut adalah unsur pembicara sebagai unsur pertama, unsur lawan bicara sebagai unsur kedua dan di antara keduanya adalah unsur pesan sebagai unsur ketiga. Pesan ini kemudian bisa kita sebut sebagai informasi yang diutarakan pembicara kepada lawan bicara melalui pemilihan kosakata, ekspresi wajah, tinggi rendah nada bicara dan lain sebagainya.
Pesan sebagai salah satu unsur dalam berbicara dapat dipahami sebagai materi yang diberikan oleh pembicara kepada lawan bicara. Pesan dapat disampaikan oleh pembicara dalam berbagai cara, misalnya saja melalui kata-kata, nada suara, hingga gerak tubuh dan ekspresi wajah.
Pesan sendiri dibagi menjadi tiga macam yang tergantung sifat dan fungsinya, Ketiga macam pesan tersebut adalah pesan informatif, pesan persuasif dan pesan koersif. Untuk memahami ketiganya, mari kita lanjutkan membaca uraian berikut ini.
1. Pesan Informatif
Pada dasarnya, pesan informatif bersifat pemberitahuan yang berfungsi memberikan keterangan-keterangan atau fakta-fakta yang menuntun lawan bicara untuk mengambil kesimpulan atau keputusan. Pesan informatif ini biasanya berupa kabar, isu dan lain sebagainya.
Sebagai contoh pesan informatif, perhatikan dialog berikut ini:
Ratna : Indonesia menang!
Hanni : Eh, menang apa?
Ratna : U 19
Hanni : U 19 itu apaan sih?
Ratna : Kamu tuh kudet. U 19 itu tim sepakbola kita usia 19
tahun. Kemarin bertanding di final melawan Malaysia.
Hanni : Oh, gitu.Eh, sudah lama juga ya sepakbola kita tidak juara?
Ratna : Betul, Makanya, kemenangan ini terasa banget.
Pada saat Ratna menyampaikan pesan bahwa Indonesia menang, informasi yang disampaikan belum lengkap sehingga membuat lawan bicara, Hanni, mempertanyakan kejelasan informasi tersebut. Kemudian, Ratna menjelaskan dengan melengkapi pesan yang pertama disampaikan.
Akhirnya Hanni dapat menemukan makna dan dapat membuat kesimpulan. Kalimat yang disampaikan Ratna itu disebut pesan informatif karena menyampaikan keterangan-keterangan mengenai subjek pembicaraan yang disertai fakta-fakta.
2. Pesan Persuasif
Sementara itu, pesan persuasif adalah pesan yang berisikan ajakan, bujukan atau rayuan, dimana pembicara memiliki tujuan untuk mendapatkan perubahan sikap dari lawan bicara. Perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang tidak dipaksakan, melainkan berasal dari kehendak diri sendiri.
Sebagai contoh pesan persuasif, perhatikan dialog berikut ini.
Ratna : Nanti malam pemutaran perdana film Bumi Manusia lho.
Hanni : Film apaan itu? Malas ah.
Ratna : Pemeran utamanya Iqbal lho.
Hanni : Wah, Iqbal? Ajakin aku nonton dong!
Ratna : Oke, tapi kamu yang bayarin makan yak?
Hanni : Ehm, oke deh.
Berdasarkan dialog antara Ratna dan Hanni kali ini menunjukkan penyampaian pesan persuasif yang dilakukan oleh si Ratna kepada Hanni. Ketika Ratna menunjukkan sebuah judul film, Hanni tidak merespons dengan positif.
Tetapi, ketika Ratna menunjukkan pemeran utama film tersebut, Hanni langsung mau diajak nonton. Artinya, ajakan Ratna untuk menonton fil dilakukan dengan cara persuasi melalui pemberitahuan siapa pemeran utamanya.
3. Pesan Koersif
Pada pesan koersif, secara umum memiliki fungsi hampir sama dengan pesan persuasif, yaitu pembicara mengharapkan perubahan sikap lawan bicara. Akan tetapi, pesan koersif bersifat memaksa dengan beberapa cara, salah satunya pembicara menunjukkan akibat, konsekuensi logis, sanksi atau hukuman untuk menekan lawan bicara.
Sebagai contoh pesan koersif, perhatikan dialog berikut ini.
Ratna : Aku malas sekolah
Hanni : Kalau kamu tidak mau sekolah, kamu akan jadi
gelandangan. Kayak itu tuh, ya sering mangkal di
tempat pembuangan sampah.
Ratna : Tukang sampah?
Hanni : Eh, tukang sampah itu pekerjaan mulia. Kalau
gelandangan? Nggak ada pekerjaan, nggak punya
rumah, nggak punya makanan enak.
Ratna : Lho, katanya tadi mangkal di tempat pembuangan
sampah!
Hanni : Dia nggak kerja, tapi nyari makanan sisa buat dimakan!
Ratna : Ha? Aku nggak mau. Aku mau sekolah saja biar bisa
makan enak.
Dialog yang disajikan di atas pada dasarnya menyatakan bahwa Hanni sebagai pembicara ingin mendapatkan perubahan sikap pada diri si Ratna. Perubahan sikap yang diharapkan Ratna dinyatakan dengan konsekuensi logis dari kemalasan belajar. Begitulah, bagaimana pesan koersif bermain dalam komunikasi.
B. Bahasa
Elemen lain dalam berbicara adalah bahasa. Dengan demikian, pesan yang disampaikan dalam berbicara harus melalui bahasa, entah itu bahasa isyarat ataupun bahasa verbal. Oleh sebab itu, bahasa dianggap sebagai faktor yang paling penting dalam berkomunikasi. Sebab, manusia yang tanpa bahasa tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan manusia lainnya.
Fungsi utama bahasa adalah untuk mengantarkan pesan komunikasi. Bahasa verbal dalam mengantarkan pesan berupa ucapan kata, frasa dan kalimat melalui lisan kita. Sementara itu, bahasa isyarat, biasanya disebut bahasa non-verbal berupa simbol, baik tulisan, bentuk-bentuk tertentu (seperti tanda lalu lintas) maupun gerak tubuh.
Bahasa yang digunakan manusia bersifat unik karena memiliki sifat-sifat produktifitas, rekursif dan pergeseran dan karena secara keseluruhan bahasa manusia bergantung pula pada konvensi serta edukasi sosial. Strukturnya yang kompleks mampu memberikan kemungkinan ekspresi dan penggunaan yang lebih luas daripada sistem komunikasi hewan yang diketahui.
Sejak jaman hominin, bahasa diperkirakan mulai secara bertahap mengubah sistem komunikasi antar primata. Primata kemudian mulai memperoleh kemampuan untuk membentuk suatu teori pikiran dan intensionalitas. Perkembangan tersebut terkadang diperkirakan bersamaan dengan meningkatnya volume otak, dan banyak ahli bahasa berpendapat bahwa struktur bahasa berkembang untuk melayani fungsi sosial dan komunikatif tertentu. Bahasa diproses pada banyak lokasi yang berbeda pada otak manusia, terutama di area Broca dan area Wernicke.
Manusia mengakuisisi bahasa lewat interaksi sosial pada masa balita, dan anak-anak sudah dapat berbicara secara fasih kurang lebih pada umur tiga tahun. Penggunaan bahasa telah berakar dalam kultur manusia. Oleh karena itu, selain digunakan untuk berkomunikasi, bahasa juga memiliki banyak fungsi sosial dan kultural, misalnya untuk menandakan identitas suatu kelompok, stratifikasi sosial, dan untuk dandanan sosial dan hiburan.
Bahasa-bahasa berubah dan bervariasi sepanjang watu, dan sejarah evolusinya dapat direkonstruksi ulang dengan membandingkan bahasa modern untuk menentukan sifat-sifat mana yang harus dimiliki oleh bahasa leluhurnya supaya perubahan nantinya dapat terjadi. Sekelompok bahasa yang diturunkan dari leluhur yang sama dikenal sebagai rumpun bahasa.
C. Kecakapan Menyampaikan Pesan atau Informasi
Pesan atau informasi disampaikan pembicara kepada lawan bicara dengan menggunakan bahasa verbal maupun non-verbal. Kecakapan menyampaikan pesan didukung oleh penguasaan kosa kata yang tersimpan di dalam memori otak, kemampuan oral dalam mengeluarkan bunyi, gerak tubuh sebagai bahasa non-verbal dan pengetahuan mengenai pesan yang disampaikan.
Secara umum, pendukung kecakapan menyampaikan pesan informasi diuraikan berikut ini:
1. Penguasaan Kosakata yang Tersimpan dalam Memori Otak
Kosakata adalah bunyi yang memiliki "maksud" dan akan dapat menyampaikan pesan apabila berdiri sendiri atau terangkai dalam frasa atau terangkai dalam kalimat. Kosakata berhubungan dengan kesepakatan antar anggota dalam sebuah kelompok masyarakat atas bahasa yang digunakan dalam kelompok tersebut.
Penguasaan kosakata yang tersimpan dalam memori otak menjadi mutlak bagi pembicara dan lawan bicara dalam sebuah komunikasi. Ketika kita bertemu dengan orang London yang tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia dan kita tidak pernah menggunakan bahasa Inggris, maka akan sulit terjadi dialog atau pertukaran informasi/pesan antara kita dan orang London tersebut. Akan tetapi, ketika kita menguasai kosakata bahasa Inggris, maka kita dapat berkomunikasi dengan orang London tersebut.
dari keterangan tersebut, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa penguasaan kosa kata yang tersimpan dalam memori otak kita sangat penting agar terjalin komunikasi yang efektif. Apabila kita tidak menguasai kosakata bahasa yang kita jadikan alat berbicara, maka berbicara efektif tidak akan pernah ada. Maka dari itu, penguasaan kosakata ini menjadi bagian dari kecakapan menyampaikan informasi.
2. Kemampuan Oral dalam Mengeluarkan Bunyi
Kemampuan oral dalam mengeluarkan bunyi juga menjadi unsur penting dari kecakapan menyampaikan informasi. Kemampuan oral didukung oleh fungsi yang normal dari organ-organ di mulut dan kerongkongan.
Ketika organ oral berfungsi normal, maka ia dapat menghasilkan bunyi yang bermakna dan dapat ditangkap maksudnya oleh lawan bicara. Orang yang memiliki ketidaksempurnaan pada organ oralnya untuk menyampaikan informasi, biasanya menggunakan bahas non-verbal sebagaimana dijelaskan dalam sub bagian berikut ini.
3. Gerak Tubuh sebagai Bahasa Non-Verbal
Penyandang difabelitas oral akan sulit menyampaikan pesan dengan bahasa verbal. Namun, mereka dapat menggunakan bahasa non-verbal untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menjadikannya sebagai kecakapan dalam menyampaikan pesan.
Selain digunakan oleh penyandang difabelitas oral, bahasa non-verbal sebenarnya juga digunakan orang yang memiliki kemampuan oral yang baik dan disebut bahasa tubuh. Beberapa bentuk bahasa non-verbal bahasa tubuh dalam percakapan adalah tatapan mata, senyuman, kerutan dahi, melotot dan lain sebagainya.
4. Pengetahuan Akan Pesan yang Disampaikan
Pengetahuan mengenai pesan yang disampaikan juga menjadi bagian penting dari kecakapan menyampaikan informasi. Bisa dibayangkan, jika Anda berada di depan orang yang berbicara di panggung orasi, dan oratornya tidak menguasai materi orasi, pasti Anda akan kebingungan dengan pesan orasinya. Anda dan audiens lainnya tidak akan bisa memahami konteks pembicaraan yang disampaikan orasi, sehingga orator dianggap gagal menyampaikan pesan orasi.
Begitulah pentingnya pengetahuan mengenai pesan yang disampaikan. Sebab, ketika kita tidak memiliki pengetahuan pesan yang kita sampaikan, itu sama saja kita tidak bisa menghadirkan fakta-fakta bahkan bukti dari pesan yang kita sampaikan. Pada akhirnya, lawan bicara akan menganggap kita bodoh dan bahkan bisa saja kita dianggap pembohong.
D. Kemampuan Mental
Kemampuan mental seorang pembicara berperan penting dalam efektifnya sebuah komunikasi. Pentingnya seperti apa? Satu contoh kasus yang bisa menjelaskan pentingnya kemampuan mental dalam keefektifan sebuah komunikasi adalah sebagai berikut.
Ketika Anda diminta orangtua Anda menjadi wakil keluarga dalam sebuah acara pernikahan saudara Anda, secara mental Anda merasa belum siap, sebab ini adalah pengalaman pertama Anda berbicara dalam acara pernikahan. Ada banyak aturan etik yang harus Anda pegang saat berbicara di acara pernikahan saudara Anda, karena hal itu berkaitan erat dengan kehormatan keluarga Anda. Aturan etik ini semakin membuat Anda ragu apakah Anda mampu menjadi wakil keluarga.
Tiba-tiba Anda kepikiran mencari pengganti Anda. Tetapi, tidak ada orang yang mau atau berani menggantikan tugas Anda. Terpaksa, Anda akhirnya melakoni tugas tersebut. Dan, keterpaksaan tersebut ternyata membuat Anda tidak kunjung bisa menyiapkan materi bicara Anda, karena kesibukan lain menjelang acara pernikahan saudara Anda yang tidak mungkin Anda tinggalkan.
Menjelang penampilan Anda di tengah dua keluarga besar - keluarga Anda dan keluarga pasangan saudara Anda - keringat dingin sudah mulai mengucur. Anda mencoba menepis dengan tisu, tetapi rasa grogi dan rasa tidak percaya diri tidak juga sirna.
Pada akhirnya, ketika Anda dipersilahkan oleh pembawa acara untuk tampil di depan tamu undangan, kaki Anda benar-benar sulit untuk dijadikan tumpuan berdiri, mulut Anda susah mengucapkan kata-kata dengan tepat, dan materi yang seharusnya bisa disampaikan dengan sederhana malah menjadi rumit dan sulit dipahami audiens. Setelah Anda turun dari berbicara, Anda pun menyesali seumur-umur kejadian tersebut.
Kepercayaan diri merupakan bagian dari kemampuan mental. Rasa grogi itu menunjukkan ketidakmampuan mental. Inilah yang menjadikan berbicara efektif atau tidak. Jika pun kita sudah menguasai materi, menghapalkan sampai luar kepala, tetapi jika saat berbicara tidak ada kemampuan mental untuk menyampaikan materi, mustahil materi yang sudah kita siapkan bisa kita uraikan dengan baik dan dipahami oleh pendengar atau lawan bicara kita.
E.Gerak Tubuh
Gerak tubuh juga menjadi salah satu elemen dari berbicara efektif. Kita bisa membayangkan ketika kita berbicara dengan orang lain, dan orang lain itu mendengarkan pembicaraan kita dengan mata yang kosong dan tangan menopang dagu.
Kita juga bisa membayangkan ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, orang lain itu berbicara sambil menggaruk-garuk rambutnya sepanjang pembicaraannya. Mungkin kita perlu berinisiatif mengajaknya ke salon agar dia keramas terlebih dahulu agar dia bisa menyampaikan informasi dengan nyaman.
Tetapi, itulah gerak tubuh. Gerak tubuh berperan secara aktif untuk menyampaikan maksud pembicaraan. Kita akan jengah berbicara dengan orang yang selalu pada posisi menunduk.
Kita juga akan malas berbicara dengan orang yang sering menggunakan salah satu jarinya untuk menggaruk lubang hidungnya. Pada intinya, kita tidak akan merasa nyaman dengan semua gerak tubuh yang tidak mendukung konteks pembicaraan itu. Maka dari itu, gerak tubuh itu menjadi salah satu elemen berbicara yang efektif. Karena trmasuk bagian dari elemen berbicara yang efektif, maka gerak tubuh kita harus diatur sedemikian rupa agar dapat mendukung maksud pembicaraan kita.
Berdasarkan pemaparan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berbicara yang efektif bukan saja penting untuk diketahui, tetapi penting untuk dipraktikkan. Orang yang terbiasa mengabaikan elemen berbicara efektif akan mengalami, salah satunya, sakit hati karena merasa tidak diperhatikan ketika dia berbicara; padhal kalau dia berbicara sangat sulit dipahami oleh lawan bicaranya sehingga membuat lawan bicaranya mengabaikannya.
Cara bicara yang tidak menarik dan tidak mengandung unsur keindahan atau seni berbicara dan bahkan cenderung membingungkan akan mengakibatkan berbicara tidak efektif. Oleh sebab itu, dalam buku ini akan kita pelajari hal apa saja yang perlu kita pelajari agar kemampuan berbicara efektif kita menjadi lebih baik.
Kecakapan dalam Berbicara Efektif
Sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, kita bisa memahami bahwa penting sekali untuk mengetahui dan mempraktikkan elemen-elemen berbicara agar kita mampu berbicara secara efektif. Dengan demikian, kecakapan seseorang dalam berbicara efektif itu adalah suatu keniscayaan agar pesan atau informasi bisa diterima dan direspons oleh lawan bicara dengan sempurna.
Di lain pihak, kecakapan berbicara yang efektif itu sesugguhnya akan menghasilkan daya tarik dan daya pikat pada pembicara. Ketika kita memiliki kecakapan berbicara, paling tidak kita akan mendapat dua keuntungan utama, sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut.
Keuntungan dari Kecakapan dalam Berbicara Efektif
Dari dua keuntungan tersebut maka kita akan mendapatkan keuntungan-keuntungan lainnya. Taruhlah pada keuntungan pertama, akan beranak pinak pada keterpikatan lawan bicara dan keterpengaruhan lawan bicara yang akan membawa kita pada keuntungan material dan immaterial. Kok bisa begitu? Bisa!
Ketika seorang manajer memerintahkan kepada karyawannya untuk mengerjakan sesuatu dan manajer tersebut memiliki kecakapan berbicara, maka si karyawan akan mengerjakan pekerjaannya lebih tepat. Sebab, karyawan itu memahami betul apa yang dimaksud oleh manajernya.
Berbeda ketika si manajer memiliki kelemahan dalam komunikasi. Bisa jadi, si karyawan akan ogah-ogahan pekerjaannya juga tidak kunjung beres, dan hasil pekerjaan tidak sesuai dengan harapan manajer. Akhirnya keuntungan finansial yang diharapkan dari hasil pekerjaan tersebut pun tidak pernah ada. Malahan, kerugian biaya produksi membengkak karena keterlambatan target dan hasil pekerjaan yang buruk.
Kalau kita menengok keberhasilan Steve Jobs memimpin perusahaan Apple, kita pasti heran apakah unsur penting yang membuat Steve Jobs mampu membesarkan bahkan meraksasakan perusahaan itu. Kalau Anda ingin jawabannya, lihatlah video presentasi Steve Jobs di channel perusahaan Apple. Anda akan menemukan bahwa Jobs memiliki kecakapan berbicara yang unggul. Ia dapat memikat audiens dengan sangat cepat dan bahkan mempengaruhi audiens, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Nah, berbicara efektif itu dapat terjadi apabila pendukung kecakapan berbicara itu terwujud dalam sebuah berbicara yang berlangsung. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana pembicara mengucapkan kata, bagaimana sikap mentalnya, bagaimana pembicara menyapa lawan bicara, bagaimana pembicara mendengarkan isi hati lawan bicara dan lain sebagainya.
Untuk memahami semua itu, mari kita pelajari bersama tiga pendukung utama dari sebuah kecakapan berbicara berikut ini.
A. Kecakapan Seni Berbicara
Dalam berkomunikasi, manusia menggunakan tata cara yang diharapkan. Tata cara tersebut mendukung dan menguatkan pembicaraan, menciptakan sisi keindahan yang menjadi pemikat, serta memungkinkan konteks atau maksud pembicaraan tersampaikan dengan baik dan dapat dipahami betul oleh lawan bicara atau audiens. Seni berbicara memungkinkan seseorang memiliki ciri khas dan karakter dalam berbicara, mendapatkan apa yang dia mau dari pembicaraannya, dan juga memungkinkan seseorang untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan.
Larry King, Oprah Winfrey dan Najwa Shihab adalah tokoh-tokoh yang mampu menarik jutaan pemirsa dalam setiap acara talk-show-nya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memikat, berpengaruh, percaya diri, dan menginspirasi. Mereka adalah tokoh-tokoh yang mempraktikkan seni berbicara dalam setiap kesempatan.
Ketiga tokoh tersebut tentu hanya bagian kecil dari tokoh-tokoh dunia yang mempraktikan seni berbicara. Masih banyak tokoh-tokoh lain, baik dari kalangan politisi, pengusaha, artis maupun lainnya yang mempraktikkan seni berbicara. Dan, sangat mungkin Anda adalah termasuk orang yang mempraktikkan seni berbicara.
B. Kecakapan Seni Mendengar
Jika Anda baru pertama kali membaca pengetahuan tentang seni mendengar ini, wajar jika Anda akan mengatakan, "Ini ilmu apaan?" ya, penulis sendiri sebelum terjun lebih dalam ke bidang ilmu komunikasi merasa ganjil dengan seni mendengar ini. Namun, setelah mempelajari lebih jauh, penulis berani membuat kesimpulan bahwa seni mendengar ini adalah ilmu yang harus dipelajari setiap orang.
Leonardo da Vinci, seorang musisi, arsitek, pelukis, pematung dan penulis Italia yang hidup pada 1452-1519 menyatakan bahwa "Banyak orang mendengarkan tetapi tidak mendengar." Imbuhan "kan" pada kata "mendengar" bermaksud meneguhkan sebuah upaya, tetapi pada akhirnya upaya itu tidak berhasil karena ternegasikan oleh frasa "tetapi tidak mendengar."
Apa hebatnya seni mendengar ini sehingga perlu kita ulas? Seni mendengar memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi secara mendetail, bukan hanya apa yang terucap tetapi juga memungkinkan kita memahami struktur batin si pembicara. Dalam menjalin hubungan, jika kita ingin memahami pasangan atau partner kita, sangat membutuhkan pemahaman atas pasangan kita tersebut. Sebuah hubungan tanpa pemahaman atas pasangan akan menjadi hubungan yang tidak sehat.
Demikianlah mengapa seni mendengar itu penting sebagai sebuah kecakapan komunikasi agar hubunga yang akan dijalin atau sudah terjalin dapat menghasilkan hubungan yang berkualitas. Ketika sebuah hubungan berkualitas, maka sangat memungkinkan hadirnya keuntungan-keuntungan, baik material maupun immaterial yang akan membuat kita sukses.
C. Kecakapan Bahasa Non-Verbal
Bahasa non-verbal adalah tanda atau isyarat yang disampaikan melalui gerak tubuh atau penyimbola bentuk tertentu yang secara umum disebut bahasa tubuh. Bahasa tubuh adalah reaksi natural yang hadir ketika seseorang melakukan aktifitas, dan dalam hal ini aktifitas berbicara. Walaupun merupakan reaksi natural, bahasa tubuh bisa ditata bahkan diciptakan agar terbentuk bahasa tubuh yang menarik.
Bahasa tubuh yang menarik tentu saja merupakan bagian dari kecakapan berbicara. Sebenarnya, bahasa tubuh ini juga dipelajari secara mendetail dalam kecakapan senin berbicara dan kecakapan seni mendengar. Sebab, seseorang yang sedang berbicara atau seseorang yang sedang mendengar pasti memberi reaksi natural melalui gerak tubuh atau penyimbolan bentuk tertentu dalam merespons apa yang ia katakan ataupun apa yang ia dengarkan.
Orang yang berbicara antusias biasanya bagian-bagian wajahnya akan bergerak, terutama mata. Tangannya juga akan bergerak merespons apa yang ia katakan untuk menguatkan maksud dari bahasa verbal yang ia ucapkan. Demikian juga, orang yang antusias mendengar akan menggerakkan bagian-bagian wajahnya. Mata dan bibir biasanya cenderung terlihat menunjukkan perasaan pendengar dalam merespons ujaran pembicara.
Bahasa tubuh, sebagaimana dikemukakan di awal, ini penting untuk dipelajari agar menghasilkan suatu respons yang menarik dan memikat saat melakukan berbicara dengan orang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa tubuh memang menjadi bagian dari pendukung kecakapan berbicara yang efektif.
Kecakapan dalam seni berbicara, seni mendengar dan bahasa tubuh mendukung terciptanya komunikasi yang efektif. Oleh sebab itu, ketiga-tiganya merupakan bagian dari kecakapan berbicara yang efektif. Ketika seseorang memiliki kecakapan berbicara yang efektif maka daya tariknya akan lebih kuat dan daya pengaruhnya akan lebih tajam. Dengan demikian, ia akan dengan mudah mempengaruhi dan menaklukkan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan (dalam artian yang positif).
Berbicara dalah jalan manusia untuk mencukupi kebutuhannya, baik kebutuhan yang bersifat rohaniah maupun kebutuhan yang bersifat jasmaniah, baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Sudah menjadi fitrah manusia dianugerahi hasrat atau keinginan agar hidup menjadi lebih indah dna bahagia.
Memperkuat Pembicaraan dengan Aspek-aspek Komunikasi
Komunikasi yang dilakukan seseorang dengan orang lain dengan jalan berbicara mesti dilakukan dengan sempurna (berkualitas dan menyenangkan) agar keduanya mendapatkan manfaat. Dalam berbicara, kita mengenal beberapa aspek yang harus diperhatikan agar pembicaraan semakin berkualitas dan menyenangkan. Aspek-aspek tersebut, meliputi aktifitas mendengarkan, aktifitas bertanya, aktifitas menjawab dan lain sebagainya.
Adanya pendengar yang baik dalam proses komunikasi akan membuat komunikasi berjalan dengan baik. Coba saja bayangkan jika dalam satu pembicaraan yang dilakukan dua orang, mereka sama-sama ngotot untuk bicara, maka akhirnya tidak terjadi dialog yang benar. Dialog akan berlangsung dengan baik, jika saling memberi kesempatan untuk berbicara dan saling merelakan diri untuk mendengar pembicaraan orang lain.
Penjelasan mengenai beberapa aspek-aspek berbicara dirangkum sebagaimana berikut.
A. Aktifitas Diam dan Mendengarkan
Komunikasi yang kita lakukan dengan orang lain memang tidak perlu dengan cara berbicara terus menerus. Sebab, berbicara terus menerus akan membuat lawan bicara kita merasa dikuasai dan dia akan lekas bosan dengan pembicaraan kita.
Diam dan mendengarkan dengan antusias adalah salah satu bentuk kecakapan seni bicara yang dapat memperkuat kualitas berbicara. Ketika kualitas berbicara baik maka apa yang kita bicarakan dan apa yang kita teguhkan melalui aktifitas mendengar dapat mempengaruhi orang lain lebih mudah.
B. Aktifitas Bertanya
Adapun perkara lain selain mendengar adalah bertanya. Proses bertanya dalam komunikasi bukan hal yang dilarang dalam sebuah komunikasi dialog. Namun, pertanyaan yang diajukan harus sesuai dengan konteks pembicaraan dan juga latar belakang lawan bicara. Aktifitas dalam bertanya memungkinkan Anda untuk menemukan informasi sebanyak-banyaknya tentang lawan bicara Anda.
Namun demikian, aktifitas bertanya juga menawarkan sesuatu manfaat bagi Anda. Salah satunya adalah Anda dapat melakukan persuasi tersembunyi melalui aktifitas bertanya kepada lawan bicara Anda. Persuasi dalam bentuk kalimat tanya dianggap lebih efektif karena biasanya lawan bicara tidak menyadari bahwa pertanyaan tersebut adalah sebuah ajakan atau rayuan.
Misalnya, dalam konteks pembicaraan tentang jual beli, Anda menjadi penjual dan lawan bicara Anda menjadi pembeli. Dalam pembicaraan itu, si pembeli sudah membuat keputusan untuk tidak membeli produk Anda karena harganya tidak cocok. Kemudian Anda mempengaruhinya dengan kalimat tanya, "Apa Anda tidak mau membeli obat penurun berat badan ini? Kalau nggak mau, apakah Anda masih nyaman dengan berat badan Anda ketika kencan dengan seseorang yang Anda sukai?"
Walaupun pembeli tidak jadi membeli produk Anda hari ini, tetapi Anda sudah menanamkan dalam pikiran bawah sadarnya bahwa produk Anda memang harus dibelinya. Di lain waktu, bisa dipastikan pembeli itu akan langsung membeli produk penurun berat badan kepada Anda.
C. Aktifitas Menjawab
Aktifitas menjawab hampir sama dengan aktifitas memberi informasi. Jawaban yang Anda berikan harus memenuhi kriteria kebenaran informasi. Jawaban Anda juga dapat bersifat persuasif atau mempengaruhi isi penanya jika Anda menggunakan kata-kata yang tepat.
Aktifitas menjawab adalah sebuah penghargaan kepada lawan bicara yang penting untuk dilakukan dengan sempurna. Maka, sebelumnya dijelaskan bahwa kriteria jawaban yang berkualitas harus sesuai dengan kriteria kebenaran informasi. Dengan demikian, lawan bicara akan merasa nyaman dengan kebenaran informasi yang diterima melalui jawaban Anda.
D. Aktifitas Membuat Kejutan
Setelah kita mengetahui aktifitas mendengar, bertanya dan menjawab, selanjutnya kita mempelajari aktifitas membuat kejutan. Kejutan bisa menjadi salah satu hal positif dalam sebuah pembicaraan. Kejutan bisa berupa pujian atau kejutan lain.
Memberi kejutan dapat membuat lawan bicara Anda merasa senang dan bahagia. Dengan melakukan hal demikian, maka orang lain akan merasa nyaman dan senang berdialog dengan Anda.
E. Aktifitas Mengakui Kesalahan
Aspek penting lain untuk menguatkan komunikasi adalah aktifitas mengakui kesalahan. Akan sulit bagi beberapa orang untuk mengakui kesalahan. Apalagi ketika kepada orang yang baru dikenal atau kepada orang yang status sosialnya dibawah orang tersebut. Tinggi hati dan ego membuat orang sangat sulit mengakui kesalahan.
Mengakui kesalahan adalah salah satu bagian dari seni bicara. Kesalahan penyebutan nama orang, misalnya, harus segera diperbaiki agar orang lain tidak merasa tersinggung. Hindari penyebutan nama yang salah secara berulang-ulang.
Caranya, tarik napas dalam-dalam, singkirkan nama yang salah dari pikiran Anda, kemudian isi kembali pikiran Anda dengan informasi tentang nama yang benar itu. Cara seperti ini lebih efektif dibanding Anda meneruskan pembicaraan dan menganggap diri Anda sudah tahu namanya yang benar. Cara seperti ini terutama mereduksi kesalahan penyebutan nama yang berulang-ulang.
Ketika Anda salah dalam penyebutan nama, permintaan maaf itu sebuah keharusan yang mesti Anda lakukan. Aktifitas meminta maaf akan berlaku efektif jika Anda tidak mengulang kesalahan yang sama. Jika mengulang kembali kesalahan yang sama, maka Anda akan dinilai sebagai orang yang teledor.
Cara meminta maaf yang tepat dalah dengan menjelaskan kesalahan yang Anda lakukan beserta penyebab Anda melakukan kesalahan itu. Tetapi, jangan menyebutkan penyebab kesalahan dari luar diri Anda. Sebab, ketika Anda menyebutkan penyebab kesalahan dari luar diri Anda, Anda akan terlihat sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, tetapi melempar kesalahan kepada pihak lain.
F. Aktifitas Empati
Untuk menciptakan antusiasme guna menguatkan komunikasi, bermain empati juga penting. Empati adalah rasa kepedulian yang tumbuh secara alamiah. Namun, empati sebenarnya bisa digali melalui membuka diri dengan penuh rasa ikhlas. Menerima dan senang dengan orang yang kita ajak bicara juga dapat menumbuhkan empatik.
Kepedulian menumbuhkan empati yang mana penting sekali pada saat kita berbicara dengan orang lain. Ketika kita melihat lawan bicara kita agak kusut wajahnya, mungkin bisa kita tanyakan apa yang sedang dipikirkan dan apa yang bisa kita bantu. Dengan kepedulian ini, orang yang kita ajak bicara akan merasa kita perhatikan. Pada akhirnya ia akan mudah kita pengaruhi.
G. Aktifitas Menutup Pembicaraan
Berbicara akan lebih kuat jika kita mampu menutup percakapan dengan baik. Aktifitas menutup percakapan ini bisa menjadi poin penting sebuah hubungan awal apakah perlu dilanjutkan atau tidak. Ketika kita melakukan penutupan dengan memberi motivasi dan semangat atau doa, maka akan menimbulkan kesan mendalam di hati lawan bicara kita.
Senyum juga sangat penting dalam adegan penutup ini. Selain itu, ucapkanlah terima kasih kepada lawan bicara agar dia merasa bahwa leberadaaanya terasa penting bagi kita.
Aspek-aspek penguat komunikasi yang diuraikan ini mesti kita pelajari dan praktikkan agar tidak terjadi kegagalan komunikasi. Apabila komunikasi yang kita jalin gagal, maka proses komunikasi tidak akan menghasilkan kualitas yang baik. Dengan demikian, apa yang kita inginkan dan sudah kita rencanakan bisa jadi berantakan.
Manfaatkan Sapaan yang Berkualitas
Manusia dalam interaksi dengan orang lain sangat perlu melakukan sapaan. Walaupun demikian, sapaan sering terkesan sepele, padahal manfaatnya sangat besar sekali dalam hubungan dengan orang lain. Kadang-kadang orang lupa melakukan untuk sekadarnya,. Kadang-kadang pula, orang takut menyapa orang lain karena mengkhawatirkan pada hal-hal tertentu yang tidak nyata. Seharusnya, orang tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu untuk melakukan hal yang baik, kan?
Orang takut menyapa biasanya karena kekhawatiran tertentu yang sangat-sangat tidak nyata dan bahkan ia tidak mengetahui kebenarannya. Seperti kekhawatiran diabaikan oleh orang yang kita sapa, tidak direspons dengan baik, dan sebagainya akan menimbulkan ketakutan untuk menyapa. Terlebih, jika kita menyapa orang yang sebelumnya tidak kita kenal, itu sangat membuat takut sekali. Padahal, apa ada salah jika kita mencoba menyapa?
Bagi orang yang pendiam, menyapa terlebih dahulu bukanlah hal yang mudah dilakukan, baik kepada orang yang sudah dikenalnya apalagi kepada orang yang belum dikenalnya. Dengan melatih diri, yaitu dengan menyapa orang-orang terdekat adalah cara yang termudah. Tumbuhkan perasaan peduli terhadap orang terdekat maka kita akan berani menyapa. Ketika kita sudah terbiasa menyapa orang terdekat, mulailah menyapa tetangga. Lakukan setiap hari agar terbiasa.
Dalam melakukan sapaan, tidaklah sesulit melakukan pembicaraan. Sapaan hangat bisa dilakukan dengan menyebut nama dengan tersenyum. Misalnya, “Halo, Tara!” kemudian diiringi dengan senyuman adalah bentuk sapaan akan membuat Anda terkesan ramah. Dengan Anda tersenyum, orang akan menangkap emosi Anda yang ramah tersebut. Jadi, masihkah ada yang perlu dikhawatirkan?
Tidak hanya itu, ketika Anda tersenyum pada saat menyapa seseorang, hal tersebut akan memancing lawan bicara Anda untuk tersenyum baik. Tentu saja, hal tersebut adalah awal komunikasi yang baik. Awal komunikasi yang baik ini akan memudahkan Anda untuk meningkatkan hubungan (interaksi). Dengan demikian, Anda pun tak akan canggung untuk memulai percakapan pada sesi selanjutnya.
Penelitian menunjukkan bahwa senyuman dapat mengangkat suasana hati Anda. Jadi, biarpun hanya menyelipkan sedikit senyuman untuk orang lain, kemungkinan Anda untuk mendapatkan senyuman baik sangatlah besar. Ini akan membuat Anda merasa lebih baik, begitupun dengan orang-orang di sekitar Anda.
Selain tersenyum, sapaan dengan memanggil nama juga menunjukkan kehangatan. Menyapa dengan memanggil nama seseorang menandakan bahwa kita ingin lebih mengenalnya. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Maka, biasakanlah untuk menyapa seseorang dengan nama pemberian orangtuanya, bukan julukan. Jika melakukan kesalahan dalam penyebutan nama, sebaiknya segera minta maaf kepada si pemilik nama.
Jika Anda ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Saat bicara kemudian, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.
Hormatilah orang yang berinteraksi dengan Anda dengan sapaan yang berkualitas. Ketika Anda menghormati dia maka dia akan menghormati Anda. Sapalah dengan sapaan yang penuh rasa peduli dan menghargai. Tidak perlu basa-basi, lakukan dengan tulus dan tetap menjaga kesopanan.
Penting untuk Anda pahami dan sadari bahwa sapaan-sapaan seperti itu akan lebih mengakrabkan Anda dengan lawan bicara Anda (orang lain). Senyuman dan menyebut nama dengan benar akan mendekatkan emosi Anda dengan dia. Selama berbicara dan berinteraksi dengan dia, sebaiknya Anda selalu melakukan hal tersebut agar kualitas interaksi Anda dan dia dapatkan dengan sempurna.
Mendengar dengan Nurani
Dalam berkomunikasi baik dengan orang yang baru Anda kenal atau lawan Anda, gunakanlah hati nurani. Hati Anda perlu dihidupkan karena setiap orang tidak hanya memiliki akal rasionalitas. Dia juga punya hati yang berfungsi untuk merasakan dan menimbang sesuatu.
Kata-kata adalah cerminan isi hati seseorang. Setiap orang berpeluang untuk menginterpretasi setiap pesan yang Anda produksi dan komunikasikan. Untuk itu sesungguhnya kata-kata atau sikap adalah informasi tentang diri Anda, tentang siapa Anda dan bagaimana karakter Anda. Sebuah pesan akan membangun citra diri Anda.
Beberapa hala yang dapat Anda lakukan untuk berkomunikasi dengan sempurna adalah dengan membangun kepekaan atau sensitifitas diri Anda terhadap sikap-sikap orang lain. Dengan mencermati bahasa tubuh orang lain saat dia berinteraksi dengan Anda.
Sikap-sikap bahasa tubuh tersebut menjelaskan tentang apa yang terjadi dalam pikirannya saat berkomunikasi dengan Anda. Hal ini karena bahasa tubuh adalah sebagai penjelas dan peneguh atas pesan-pesan verbal yang diproduksi oleh seseorang.
Kemudian perlihatkan kepedulian Anda pada hal-hal sekecil apa pun yang dilakukannya. Misalkan pada saat dia sedang membutuhkan sesuatu, maka tanyakan dan penuhilah kebutuhannya tanpa harus dia memintanya. Karena dengan hal seperti ini Anda akan dapat mempengaruhi orang lain berdasarkan kebutuhannya.
Sesudah itu, optimalkan indera Anda dalam mengamati sikap dan tindakan komunikasinya. Dengarkan dengan penuh antusias setiap apa yang disampaikannya. Perhatikan dan cermati dengan teliti sikap dan bahasa tubuh yang dilakukan.
Berkomunikasi dengan sempurna membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan orang lain dengan lebih baik. Kemampuan mendengarkan adalah kemampuan pertama yang harusnya Anda miliki.
Tidak sedikit orang pandai berbicara namun memiliki kemampuan yang rendah dalam mendengarkan. Hal inilah yang akan mengakibatkan pada tingkat simpati yang diberikan orang lain terhadap dirinya menjadi lemah.
Berkomunikasi dengan sempurna juga mengandaikan sikap, pilihan kata, cara bertutur dan waktu mengucapkan atau waktu Anda menggerakkan tubuh. Ini perlu latihan agar pada saat Anda menjalin komunikasi tidak terlihat kaku. Respons Anda akan terlihat alamiah dan menyenangkan.
Melatih Kecakapan Mendengar dalam Berbicara
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan terjalinnya sebuah hubungan dengan manusia lain. Komunikasi adalah sebuah jembatan untuk membangun suatu hubungan antarmanusia. Komunikasi dalam bentuk pembicaraan sudah ada sejak Adam diturunkan ke bumi ini. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi di dunia ini jika tidak ada komunikasi. Mungkin, tidak akan terjadi hubungan satu makhluk dengan makhluk lainnya.
Kemampuan berbicara identik dengan keberhasilan dalam karier, keluarga dan hubungan sosial. Seorang yang handal dalam berbicara memiliki peluang untuk meraih sukses yang seluas-luasnya. Namun demikian, dalam komunikasi, kecakapan seni berbicara yang tidak dibarengi dengan kecakapan seni mendengar adalah kesalahan besar yang tidak harus segera diperbaiki.
Seperti kita tahu, konflik besar yang sering terjadi di dunia ini adalah disebabkan ketidakmampuan kita dalam mendengarkan orang lain. Pertengkaran suami-isteri juga ditengarai terjadi akibat satu sama lain tidak memiliki kecakapan mendengar. Mereka hanya pandai berbicara (menuntut hak) tanpa mau mendengar (memberi hak) kepada pasangan. Oleh sebab itu, kecakapan seni mendengar harus dipahami dan dilakukan ketika kita ingin menjalin sebuah hubungan yang berkualitas dan menyenangkan.
Ada beberapa teknik yang dapat dilakukansupaya kita dapat menguasai kecakapan seni mendengar. Teknik-teknik tersebut kemudian dijabarkan berikut ini agar dapat kita pahami bersama dan kita praktikkan dengan sempurna.
Mengenali Individu Lawan Bicara
Lawan bicara adalah orang yang perlu kita pahami bagaimana cara berpikirnya. Kemampuan membaca pikiran akan meningkat, semakin Anda mengenal lawan bicara Anda. Jika Anda berinteraksi dengan seseorang selama kurang lebih sebulan, Anda akan lebih mudah untuk mengenali apa yang dia pikirkan dan rasakan.
Hal tersebut dapat terjadi karena Anda mampu mengartikan kata-kata dan tindakan orang lain dengan lebih tepat, setelah mengamatinya dalam berbagai situasi. Anda juga mengetahui apa yang terjadi dalam hidup mereka, dan mampu menggunakan pengetahuan itu untuk memahami mereka dalam konteks yang lebih luas.
Dalam konteks ini, mengenali lawan bicara itu bermanfaat agar Anda tahu bagaimana dan apa yang dipikirkan oleh lawan bicara Anda. Dengan mengetahuinya maka Anda dapat menegosiasikan keinginan Anda dan keinginan lawan bicara Anda dengan lebih baik.
Mengenali Latar Belakang Lawan Bicara
Untuk memahami lawan bicara Anda, sebaiknya Anda juga mengetahui latar belakangnya. Perbedaan latar belakang akan membuat perbedaan pandangan, baik yang teknis maupun yang etis. Dengan memahami latar belakang lawan bicara Anda maka Anda akan mudah melakukan kegiatan berbicara.
Ekspresi emosi bisa berbeda di berbagai latar budaya. Ekspresi sedih di satu budaya, bisa jadi diinterprestasikan sebagai emosi lain di budaya lain. Jadi, jika ingin memahami lawan bicara. Anda perlu memperhatikan latar belakang orang itu. Jangan sampai salah menebak atau bahkan memicu terjadinya kesalahpahaman dalam berbicara.
Mengenali Emosi Lawan Bicara
Dalam berbicara, setiap orang tentu saja menggunakan emosi untuk mengekspresikan yang dipikirkannya. Emosi itu kemudian terekspresi melalui bermacam-macam bentuk. Emosi yang palsu biasanya diungkapkan pada bagian bawah wajah seseorang. Adapun emosi utama bisa dilihat dari sebagian ke atas wajah, biasanya di sekitar mata.
Mata biasanya lebih memancarkan isi hati seseorang. Memastikan apa yang disampaikannya lewat sorot mata, kedipan mata, dan kerut dahi akan memudahkan Anda mengenali emosi lawan bicara Anda. Dengan demikian, ketika Anda berbicara dengannya, Anda lebih mudah mengatur bagaimana Anda harus bersikap dan berbicara.
Menyimak Lawan Bicara dengan Saksama
Dalam kalimat Tiongkok, kata komunikasi diartikan sebagai seni mendengar. Kita menjadi lebih bijaksana bukan ketika berbicara, tetapi ketika mendengarkan. Inti komunikasi sebenarnya bukanlah seberapa fasih kita berbicara, namun seberapa jauh kita dapat mendengarkan dan menyimak pesan komunikasi orang lain.
Menyimak lawan bicara dengan seksama berarti Anda telah melakukan penghargaan terhadap lawan bicara Anda. Lawan bicara yang merasa terhormat dengan penghargaan Anda akan menyukai berbicara dengan Anda. Selanjutnya, menyimak lawan bicara juga dapat memberi pemahaman yang lebih bagi Anda atas apa yang disampaikan oleh lawan bicara. Dengan demikian, Anda akan dapat menghindarkan diri dari kesalahan paham atas apa yang disampaikan lawan bicara. Pun, Anda dapat memberi respons dengan tepat sehingga akan menyenangkan lawan bicara Anda.
Memahami Makna Pesan Lawan Bicara
Sebuah kata belum tentu menjadi sarana untuk menyampaikan pesan. Namun, sebuah ekspresi dapat secara jujur menyampaikan pesan yang sebenarnya. Ekspresi tidak bisa menyembunyikan rahasia, sehingga kita juga perlu memahami lawan bicara dengan memahami sebuah pesan yang disampaikan melalui ekspresi.
Dalam berbicara, ekspresi wajah maupun bagian-bagian dari wajah dan tubuh secara keseluruhan memiliki makna tertentu. Mengenali dan memahami makna dari ekspresi tersebut sangat membantu kita dalam “mendengar” isi pikirannya. Dengan demikian, dalam komunikasi ini kita dapat menempatkan diri secara lebih tepat.
Memahami Gaya Komunikasi Lawan Bicara
Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda satu dengan yang lain. Gaya komunikasi ini pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa sebab seperti: latar belakang ras, etnis, budaya, latar belakang pendidikan serta pengaruh lingkungan yang ada dan mempengaruhi seseorang.
Dengan gaya komunikasi yang kita miliki, kita menjadi khas di depan orang lain. Dalam berkomunikasi sebaiknya tidak mengubah-ubah gaya komunikasi secara terus-menerus, karena selain menunjukkan ketidakkonsistenan kita, hal ini juga berakibat pada munculnya kesalahpahaman komunikasi yang terjadi.
Memilih Waktu yang Tepat
Berkomunikasi tidak semata-mata sebuah pesan bisa disampaikan, namun menyangkut pula bagaimana suasana ketika proses penyampaian pesan berlangsung pada pihak lain. Pemilihan suasana inilah yang sedikit banyak mempengaruhi perasaan yang tercipta saat pesan disampaikan.
Semakin tepat kita memilih momentum, semakin mudah pesan bisa diterima dengan baik. Dalam suasana yang kurang kondusif, sebaik apapun isi pesan yang disampaikan, bisa jadi akan mengalami bias.
Memberi Apresiasi Lawan Bicara
Apresiasi kita terhadap siapapun amat berperan dalam komunikasi. Dengan apresiasi positif yang kita kembangkan, memudahkan kita diterima oleh siapapun. Setiap orang pada dasarnya suka diapresiasi dengan baik oleh orang lain maupun lingkungannya.
Apresiasi positif juga menumbuhkan munculnya empati dari pihak lain. Dan, jika sebuah komunikasi ini sampai pada pemumbuhan rasa empati, dipastikan komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang cukup baik dan berkualitas.
Lebih Ekspresif dalam Merespons
Ekspresivitas emosi cenderung timbal balik. Semakin Anda ekspresif, semakin banyak pula Anda akan mendapat informasi mengenai kondisi emosional dari orang lain. Oleh sebab itu, selain harus pintar “bermain” kata, Anda juga harus bisa memainkan bahasa tubuh Anda.
Bahasa tubuh, sebagaimana ekspresi, adalah pengungkapan yang paling jujur dibanding dengan kata-kata. Oleh sebab itu, ketika berbicara dengan lawan bicara, usahakan untuk menggunakan bahasa tubuh yang tepat agar kenyamanan lawan bicara bisa memberi Anda peluang untuk memikatnya.
Perhatikan Gerak Wajah Lawan Bicara
Anda mungkin tidak menyadari bila obrolan Anda terlalu sensitif untuk orang lain. Dia mungkin merasa terpojok dan tidak nyaman. Dia bahkan hanya menanggapi pembicaraan Anda dengan sebelah wajah sambil sesekali menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Itu artinya dia sedang tidak mood berbicara dan meminta Anda untuk menghentikan pembicaraan tanpa dia harus memalingkan tubuhnya dan meninggalkan Anda.
Sebagaimana bahasa tubuh, gerak wajah lawan bicara benar-benar harus Anda perhatikan. Dengan memahami gerak wajah lawan bicara, Anda akan menemukan mana sisi positif maka saat itulah Anda perlu meningkatkan performa bicara sehingga mampu memikatnya dengan mudah. Tetapi, ketika Anda menemukan sisi positif dalam gerak wajah lawan bicara, sebaiknya Anda segera berpikir untuk memperbaiki pembicaraan agar interaksi berjalan dengan sempurna.
Tahu Kapan Berhenti Bicara
Ketika merasa lelah, lawan bicara Anda mungkin lebih suka menyampaikan isyarat halus untuk menjaga perasaan Anda. Ketika Anda memandangnya, dia akan menegakkan kepalanya. Akan tetapi, ketika Anda menoleh ke arah lain, mungkin dia akan menarik napas panjang dan mengangkat bahunya.
Dalam hubungan jangka panjang, gerakan ini biasa ditunjukkan oleh orang yang sangat mencintai pasangannya. Kadang secara tidak sadar, dia menunjukkannya pada Anda karena dia butuh dimanja.
Menyimpan Rahasia
Jika lawan bicara Anda menghentikan pembicaraan dan ujung lidahnya terselip di antara bibirnya yang rapat, artinya dia berusaha menyembunyikan ucapannya. Gerakan seketika ini menandakan bahwa dia hampir saja membocorkan sebuah rahasia.
Apabila Anda ingin tahu apa yang dirahasiakan, sebaiknya Anda korek pelan-pelan dan halus. Cara yang paling sering berhasil adalah dengan mengajukan pertanyaan, tanpa menuju “sasaran” rahasia tersebut. Artinya, Anda harus mencoba dengan berbagai asumsi tentang apa yang dirahasiakan lawan bicara Anda.
Bersikap Rileks
Seseorang cenderung “menyamakan diri” dengan lawan bicarnya melalui postur tubuh dan pola napas. Jika Anda merasa tegang, lawan bicara Anda bisa saja, secara tak sadar, menjadi tegang pula lalu terhambat, dan akhirnya menjadi sulit untuk dibaca.
Oleh sebab itu, Anda perlu mengelola emosi Anda dengan cara-cara yang praktis agar mencapai titik rileks dalam sekejap. Caranya, ambillah napas panjang, lalu tersenyumlah. Kemudian, mencoba untuk menampilkan keterbukaan dan penerimaan kepada siapa pun yang bersama Anda. Begitulah cara mencapai titik rileks dengan cepat.
Kemampuan mendengarkan orang lain memang agak sulit dilakukan apabila kita tidak membiasakan diri. Apa yang disampaikan di atas adalah cara-cara untuk Anda pelajari, sehingga Anda dapat memahami pikiran orang lain dan Anda tahu bagaimana harus bersikap terhadap lawan bicara Anda.
Anda harus memahami dulu apa yang sedang dipikirkan orang lain untuk mendapatkan hala-hal yang Anda inginkan darinya. Kemudian, kita bisa “masuk” lewat hal yang dijadikan masalahnya tersebut.
Seseorang yang menguasai kemampuan mendengar akan mudah mempengaruhi orang lain karena pemahamannya tentang orang lain, apa yang diiinginkan orang lain, serta maksud-maksud orang lain dapat kita tangkap melalui kemampuan mendengar ini. Kemampuan ini jarang dimiliki orang, namun sangat mungkin dikuasai banyak orang yang mau belajar. Mereka yang tidak memiliki kemampuan mendengar, bukan berarti mereka tidak bisa mendengar. Faktor-faktor pengganggu, seperti egois dan kurang menghargai orang lain menjadi penghambat penguasaan seni mendengar.
Comments
Post a Comment