Bagian 1 : The Power of Talk

Apa itu Berbicara?

 Berbicara adalah salah satu kemampuan manusia yang sangat mendasar. Setiap orang pasti memiliki kemampuan berbicara. Namun, seberapa baik orang dalam berbicara itu tergantung pada kualitas kepribadiannya. Artinya, tidak semua orang mampu melakukan komunikasi dengan orang lain dengan baik meskipun ia bisa berbicara.

   Kita bisa melihat berbagai kasus, misalnya dalam perkantoran dibutuhkan manajer yang mampu membicarakan tugas-tugas yang harus dikerjakan karyawan. Di lain pihak, sebuah organisasi membutuhkan seksi humas (hubungan masyarakat) yang akan menjembatani organisasi tersebut dengan masyarakat yang ada dalam organisasi maupun di luar organisasi.


A. Kemampuan Komunikasi

    Dasar utama berbicara adalah kemampuan komunikasi. Artinya, ketika kita bertanya tentang apa itu berbicara maka kita akan mendapatkan jawaban seputar ilmu berkomunikasi antara seseorang dengan seseorang lainnya, atau antara sekelompok orang lainnya.

  Pada dasarnya manusia membutuhkan komunikasi untuk mencukupi kebutuhan lahir dan batin. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial manusia melakukan komunikasi satu dengan lainnya. Manusia membutuhkan dan melakukan komunikasi di antaranya untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya dan/atau mendapat informasi yang dibutuhkannya.

       Dalam dunia komunikasi, ada dua jenis komunikasi yang paling umum digunakan, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Komunikasi verbal terdiri dari dua hal, yakni lisan dan tulis. Sementara itu komunikasi non-verbal terdiri dari bahasa tubuh, ekspresi wajah, penampilan dan lain sebagainya. Sementara itu, dalam kaitan pembahasan buku ini, berbicara adalah trmasuk dalam komunikasi verbal dan non-verbal.

    Dalam komunikasi verbal, berbicara tergolong sebagai komunikasi lisan. Sementara itu, dalam komunikasi non-verbal dalam berbicara juga dilakukan dalam bentuk bahasa tubuh, ekspresi wajah, penampilan dan juga lainnya.


B. Penyampaian Pesan

    Berbicara itu hakikatnya adalah menyampaikan pesan. Apa pun isi dari pesan itu, hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara penyampaiannya. Kemudian, kita juga menelusuri lagi tujuan dari penyampaian pesan tersebut. Beberapa tujuan yang biasa ingin dicapai oleh pembicara pada saat menyampaikan pesan antara lain mengabarkan (informatif), memaksa (koersif), membujuk (persuasif) dan memerintah serta meminta kabar (interogatif).

    Sebuah pesan yang disampaikan dalam pembicaraan akan dapat dimengerti apabila meliputi tiga unsur yaitu kode pesan, isi pesan dan wujud pesan. Kode pesan adalah sederet simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat bermakna bagi penerima pesan. Dalam teknik bicara, kode pesan tentu saja simbol-simbol verbal yang disampaikan melalui oral yang berbentuk bunyi-bunyi bahasa.

    Kode-kode pesan dalam teknik bicara harus meliputi simbol-simbol bunyi yang disepakati oleh kedua belah pihak dalam ranah arbiter. Artinya, kedua belah pihak yang sedang melakukan aktivitas berbicara sudah menyepakati atau memahami makna dari setiap bunyi yang disampaikan secara oral.

    Kode pesan ini, dalam pengertianyang lebih lugas, dapat dikatakan sebagai bahasa yang digunakan dalam pembicaraan. Orang Jawa yang tidak pernah belajar atau terbiasa mendengar orang bertutur dalam bahasa Jepang dan orang Jepang yang tidak pernah belajar atau terbiasa mendengar orang bertutur dalam bahasa Jawa, tentu mereka akan kesulitan memahami konteks satu sama lain pada saat berkomunikasi.

    Simbol-simbol bunyi yang disepakati atau bahasa yang dipahami menjadi pertimbangan penting dalam teknik dasar berbicara. Sebab, tidak semua orang di seluruh dunia ini tidak bisa asal bicara karena mereka memiliki kesepakatan yang berbeda-beda dalam menentukan simbol bunyi dan maknanya.

    Setelah kita mengetahui bahwa kode pesan penting untuk diperhatikan dalam berbicara, kita akan membahas mengenai isi pesan yang tak kalah penting dalam teknik berbicara. Isi pesan adalah bahan atau materi yang dipilih oleh para pembicara untuk mengkomunikasikan maksud dan tujuannya. Artinya, isi pesan harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh para pembicara.

    Dalam kaitan bahan atau materi, kode-kode pesan yang dipilih untuk menyampaikan materi harus sesuai dengan kesepakatan. Apabila tidak ada kesepakatan, maka materi yang disampaikan tidak akan dapat dipahami oleh penerima pesan.

    Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tujuan penyampaian isi pesan adalah mengabarkan (informatif), memaksa (koersif), membujuk (persuasif), memerintah dan meminta kabar (interogatif). Ketika tujuan sudah ada maka tinggal menentukan kode pesan dan kemudian disampaikan agar penerima pesan memahami.

    Wujud pesan juga merupakan unsur penting dalam penyampaian pesan agar dipahami dengan baik oleh penerima pesan. Wujud pesan adalah sesuatu yang membungkus isi pesan itu sendiri di mana pembicara memberikan wujud nyata supaya penerima pesan tertarik untuk mengetahui dan memahami isi pesan tersebut.


C. Aksen dalam Komunikasi

    Dalam teknik bicara, kita bukan saja mengandalkan kode pesan yang berupa simbol-simbol bunyi yan gberupa kata-kata, tetapi kita juga harus memperhatikan aksen, kejelasan pengucapan kata, kecepatan berbicara, jeda, ekspresi wajah dan bahkan juga penampilan. Memperhatikan hal-hal yang membungkus isi pesan tersebut akan lebih memantapkan pemahaman penerima pesan.

    Isi pesan yang tidak dibungkus dengan baik maka akan sulit dipahami pleh penerima pesan. Misalnya, ketika kita menyampaikan informasi dengan cara berbicara, bisa jadi  penerima pesan kehilangan inti pesan yang disampaikan pembicara apabila tidak disampaikan dengan bungkus yang baik.

    Berdasarkan pembahasan di atas, kita sudah mendapat kesimpulan apa itu berbicara, yakni tata cara menyampaikan pesan yang dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh penerima pesan. Kemampuan menyampaikan pesan dengan baik inilah yang penting untuk dikuasai oleh semua orang agar komunikasi terjalin dengan akrab dan tidak terjadi kesalahan paham dari pihak penerima pesan.


Berbicara sebagai Komunikasi Verbal

    Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu communicare yang artinya memberitahukan. Istilah ini berkembang ke dalam bahasa Inggris yang artinya proses pertukaran informasi, konsep, ide, perasaan dan lain-lain antara dua orang atau lebih. Kemudian istilah ini di Indonesia menjadi komunikasi, yang berarti pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

    dalam kamus Bahasa Indonesia, verbal berarti lisan sehingga komunikasi verbal diartikan sebagai komunikasi lisan. Namun, berdasarkan ilmu komunikasi yang dimaksud dengan komunikasi verbal bukan hanya lisan saja, tetapi meliputi komunikasi lisan dan komunikasi tertulis.


A. Lambang Komunikasi

    Dalam komunikasi, bahasa diartikan sebagai lambang verbal. Dengan demikian, komunikasi verbal adalah 'komunikasi yang menggunakan lambang bahasa dan media'. Selanjutnya, karena bahasa dapat disampaikan secara isan atau tertulis, maka komunikasi verbal dapat diartikan sebagai "komunikasi yang menggunakan bahasa lisan maupun tertulis".

    Dari uraian tersebut, secara lengkap komunikasi verbal dapat diartikan sebagai "proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan bahasa lisan atau tertulis". Komunikasi perseorangan secara verbal biasanya dilakukan antara dua orang. Dengan kata lain, yang dimaksud komunikasi perorangan secara verbal adalah komunikasi yang dilakukan seseorang dengan orang lain secara lisan maupun tertulis.


B. Komponen Komunikasi

    Seorang pakar komunikasi, Dr.Harold D.Lasswell, menyebutkan bahwa ada lima komponen komunikasi yang terdiri atas who (siapa), says what (menyatakan apa), in which channel (melalui media yang mana), to whom (kepada siapa) dan with what effect (apa pengaruhnya). Dari pengertian komunikasi menurut Barker tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam berkomunikasi harus ada unsur-unsur:

1. Pelaku (People)

People adalah komunikator yang menyampaikan pesanjika dalam jual beli, dalam hal ini maksudnya adalah guru.Komunikator dapat berupa perorangan maupun kelompok. Untuk dapat melakukan komunikasi dengan baik, seorang komunikator memiliki syarat-syarat yaitu memiliki semangat, bersifat kritis, memiliki kepercayaan diri, memiliki sikap dna tindakan yang terpuji, memelihara proses komunikasi yang sedang berlangsung, dan menyadari kebiasaan-kebiasaan yang berlebihan yang dipandang tidak baik, misalnya dalam hal ucapan, sikap maupun tindakan.

    Jika ditinjau dari segi pelakunya maka komunikasi terbagi menjadi berikut ini:

a. Intrapersonal Communication

    Intrapersonal communication adalah komunikasi dengan pribadi atau individu masing-masing. Saat sendirian, kita tidak berkata apa-apa, namun hati kita tetap berbicara dan hal itu merupakan tingkat komunikasi dengan diri pribadi. Sering kita memeprtimbangkan sesuatu dengan bertanya pada hati kita sendiri dan menjawabnya sendiri.

Ahli komunikasi berpendapat bahwa apabila kita ingin berjalan mulus dalam melakukan komunikasi dengan orang lain atau kelompok lain, sebelumnya kita harus dapat berkomunikasi terlebih dahulu dengan diri sendiri. Orang yang telah dapat berkomunikasi dengan dirinya sendiri tidak mungkin berkata, bersikap dan bertindak yang akan merugikan dan menyakitkan orang lain.

Apabila kita telah dapat melakukan komunikasi pribadi, diharapkan dalam proses berkomunikasi dengan orang lain akan lancar. Komunikasi intrapersonal merupakan awal timbulnya ide atau gagasan seseorang, misalnya introspeksi diri, berpikir, berdoa, menulis surat dan mendengarkan radio.

b. Interpersonal Communication

Interpersonal communication adalah komunikasi antar pribadi perseorangan atau komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Misalnya berkomunikasi dengan pemimpin, dengan sesama kolega, atau antara guru dan siswa-siswa.

c. Group Communication

Group communication adalah komunikasi kelompok, baik seseorang dengan kelompok maupun antarkelompok. Group communication terbagi menjadi dua bagian yaitu small group communication dan large group communication.

d. Mass Communication

Mass communication adalah komunikasi yang mempergunakan media massa, misalnya koran, majalah, radio, internet dan televisi. Pesan yang disampaikan pada komunikasi ini terjadi pada saat bersamaan untuk semua khalayak yang heterogen dan tersebar di berbagai wilayah.


2. Media (Process)

    Process adalah penyampaian pesan komunikasi dari komunikator kepada komunikasi melalui media atau alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Media komunikasi tidak hanya perangkat keras saja, tetapi juga terdiri atas perangkat lunak, misalnya bahasa merupakan media komunikasi juga. Untuk media lebih jelasnya sebagai berikut:

a. Media Komunikasi Berupa Bahasa

Bahasa merupakan lambang-lambang huruf dan angka ataupun yang lainnya sebagai bunyi vocal yang mengandung makna. Apabila guru menilai Anda bahwa Anda mempunyai nilai "A" maka lambang "A" tersebut mempunyai makna dan vokal tersendiri yang membedakannya dengan "B" atau "C". Rangkaian dari lambang-lambang huruf tersebut menjadi bahasa yang dapat diterima oleh komunika.

Untuk itu, bahasa merupakan sebagai media atau alat komunikasi bentuk software. Bahasa adalah alat terpenting dalam proses komunikasi, sekalipun peralatan canggih yang digunakan untuk berkomunikasi, jika bahasa yang kita gunakan tidak baik, maka komunikasi itu kemungkinan besar akan gagal. Seperti halnya peribahasa "bahasa merupakan bangsa", artinya bahasa dapat mencerminkan kepribadian seseorang.

b. Media Komunikasi Berupa Alat

Media komunikasi berupa alat merupakan sarana komunikasi berupa perangkat keras yang digunakan untuk berkomunikasi. apakah ditinjau dari wujudnya, media komunikasi itu dapat berupa audio, visual dan audio-visual.

c. Pesan (Object, Idea and Feeling)

Pesan verbal merupakan pesan berupa kata-kata atau bahasa,baik lisan maupun tulisan. Pesan nonverbal merupakan pesan yang bukan berupa kata-kata, melainkan isyarat atau gerak tubuh.

Pesan non-verbal terdiri atas kinesik (gerak tubuh), paralinguistik (suara), proksemik (penggunaan jarak dan ruangan), olfaksi (penciuman dan bau-bau, sensivitas kulit) dan artifactur (pakaian).

Apabila ditinjau dari segi isinya, pesan komunikasi terbagi atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut :

  • Berisi tentang Suatu Objek
        Pada pesan komunikasi ini, berupa suatu hal tertentu yang dibicarakan antara komunikator dan komunikan. Misalnya dalam pelajaran bahasa Indonesia, seorang gurumenjelaskan tentang penggunaan EYD.
  • Berisi tentang Suatu Ide
Pada pesan komunikasi ini, isi berupa gagasan atau juga argumen. Misalnya, penjelasan mengenai mengapa tanda baca harus dibedakan pada letak dan fungsinya.
  • Berisi tentang Ungkapan Perasaan
Pada pesan komunikasi ini, isi berupa ungkapan perasaan. Misalnya, ungkapan ketertarikan siswa terhadap mata pelajarantertentu, ungkapan kesedihan siswa karena mendapatkan nilai yang buruk, dan lain sebagainya. Ungkapan perasaan ini dapat pula tidak dengan kata-kata, tetapi tercermin dari isyarat bahasa nonverbalnya.

Pesan adalah sesuatu yang berupa pikiran maupun perasaan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Sementara, bentuk-bentuk pesan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu informatif, persuasif dan koersif.

Pesan informatif adalah pesan yan gbersifat memberikan keterangan-keterangan (fakta), kemudian komunika mengambil kesimpulan dan kepuasan sendiri. Dalam situasi tertentu, pesan informatif justru akan berhasil dari pada pesan persuasif.

Pesan persuasif adalah pesan yang berupa bujukan yang berusaha memebangkitkan pengertian dan kesadaran manusia bahwa apa yang disampaikan oleh komunikator akan memberikan perubahan sikap. Perubahan sikap ini adalah atas kehendak sendiri (bukan paksaan).

Pesan koersif adalah pesan yang bersifat memaksa dengan menggunakan sanksi-sanksi apabila tidak dilaksanakan. Bentuk pesan koersif yang paling popular adalah agitasi dengan penekanan-penekanan yang menimbulkan tekanan batin dan ketakutan dikalangan public (khalayak). Pesan ini dapat berupa perintah-perintah, instruksi dan sebagainya.

d. Tanggapan (Dynamic Ever Changing)
Dynamic ever changing adalah bahwa dalam proses komunikasi itu harus selalu ada perubahanyang terus-menerus dan dinamis dari pihak komunikator dan komunikan. Perubahan yang diharapkan dalam komunikasi adalah perubahan gerak tubuh dan pemikiran.
  • Perubahan Gerak Tubuh
Perubahan ini adalah perubahan gerak normal tubuh saat terjadinya komunikasi. Hal ini bertujuan agar proses komunikasi tidak berjalan monoton. Untuk itu, dalam berkomunikasi harus disertai dengan gaya, gerak dan isyarat tangan.
    
Namun, gerakan yang diharapkan adalah gerak normal tubuh, bukan gerak yang berulang-ulang karena suatu penyakit atau sesuatu hal. Misalnya, gerakan menggaruk-garuk karena gatal atau gelisah saat duduk karena ingin buang hajat.

  • Perubahan Pemikiran
Perubahan ini merupakan perubahan pemikiran yang dihasilkan dari proses komunikasi, misalnya perubahan dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, yang sebelumnya tidak paham menjadi paham. Oleh sebab itu, dalam berkomunikasi harus menggunakan bahasa yang komunikatif agar dapat dipahami oleh kedua belah pihak.

Tidak semua proses komunikasi dikatakan komunikasi jika tidak menghasilkan sesuatu pengalaman baru bagi keduanya. Misalnya, kita menyampaikan materi dengan menggunakan bahasa Perancis, dimana siswa-siswa tidak mengerti bahasa tersebut. Hal tersebut bukanlah merupakan komunikasi yang informatif, melainkan siswa-siswa hanya bisa mendengarkan saja.

Kemampuan berbicara sangat terkait bagaimana seseorang memiliki kemampua berkomunikasi. Memahami dengan benar alur dari ilmu komunikasi akan memudahkan kita dalam berbicara, juga dalam hal penggunaan bahasa tubuh. Sebab, keduanya merupakan bagian dari ilmu komunikasi.

Mengapa Orang Harus Berbicara?

Ketika kita sudah memahami apa itu berbicara tentu kita menjadi sedikit tahu mengapa orang itu harus berbicara. Oleh sebab itu, pada bagian ini kita akan membahas dengan detail mengapa orang harus berbicara sebagai bagian dari komunikasi antar manusia. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa kemampuan berbicara itu penting untuk dimiliki oleh setiap orang.

Apabila dikaji dari segi mana pun, komunikasi akan menempati urutan pertama dari kehidupan manusia. Tidak ada satu unsur pun yang dapat menjelaskan bahwa komunikasi merupakan hal yang bisa dinomroduakan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya. Karena penting, kebanyakan orang akan melakukan pembelajaran dalam berkomunikasi dengan sederet pelengkapnya.

A. Berbicara sebagai Respons

    Jika kita mau sejenak kembali ke masa lalu, kita akan menemukan diri kita sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain. Ketika terlahir, komunikasi pertama yang dilakukan bayi adalah dengan menangis, sebuah respons atas dunia baru yang akan dijalani. Ketika bayi yang baru terlahir dan tidak menangis, tenaga medis yang menangani akan menepuk-nepuk bayi tersebut agar merespons dunia barunya.

Berlanjut ke tahap berikutnya, bayi berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa isyarat dan sedikit suara yang membentuk bunyi kata. Kemudian, merek ajuga membangun mental untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Keberhasilan pembangunan mental komunikasi biasanya akan dipengaruhi oleh bagaimana perilaku dan kebiasaan orang-orang di sekitar bayi.

Salah satu pemisalan untuk kasus pembangunan mental komunikasi adalah ketika bayi, dalam kurun waktu yang lama, berad di lingkungan orang-orang yang selalu berbicara dengan suara keras, nada tinggi, serta bahasa tubuh yang kasar. Pemantapan mental komunikasi bayi ini cenderung menghasilkan bentuk yang sama dengan orang-orang yang berada di sekitarnya; suara keras, nada tinggi dan bahasa tubuh yang kasar.

Namun, kecenderungan ini bisa berubah ketika bayi berkembang menjadi kanak-kanak, remaja dan dewasa. Mereka akan mengalami perubahan pemahaman sesuai dengan apa yang didapat dari lingkungan yang lebih luas. Mereka akan menentukan mental dan gaya komunikasi seperti apa yang akan menjadi ciri khasnya.

Alasan perubahan bentuk mental dan gaya komunikasi biasanya dipengaruhi oleh kebutuhan seseorang. Seseorang yang berada di lingkungan pendidikan, misalnya akan lebih menata bagaimana dia berkomunikasi. Pun, seseorang akan lebih halus dalam berbicara ketika bertemu pertama kali dengan orang yang baru dikenal. Namun, akan berbicara lebih vulgar ketika berkomunikasi dengan seseorang yang telah akrab.

B. Bahas Tubuh sebagai Respons

Bahasa tubuh juga termasuk dalam kaitannya dengan kebutuhan. Kepada orang yang baru dikenal, orang akan menggunakan bahasa tubuh sebaik mungkin. Sebaliknya, kepada orang yang sudah akrab, teman bermain, orang akan menggunakan bahasa tubuh lebih vulgar atau, paling tidak, lebih fleksibel.

Seperti diketahui, manusia ditakdirkan memiliki kebutuhan. Kebutuhan manusia tersebut, mau tidak mau, harus dipenuhi dan/atau paling tidak menjadi sebuah impian atau cita-cita yang ingin didapat. Sudah menjadi fitrahnya, kebutuhan menjadi sifat natural dari manusia. Akan menjadi  aneh ketika seseorang tidak memiliki kebutuhan. Bahkan orang gila pun memiliki kebutuhan makan.

Dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, orang akan melakukan upaya. Upaya yang pertama adalah komunikasi. Pada bayi, upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya adalah menangis. Pada kanak-kanak, upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan merengek. Pada remaja, upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya dengan berkomunikasi dengan bahasa verbal maupun bahasa tubuh, walaupun kemampuan mental untuk berkomunikasi masih belum sempurna. Pada orang dewasa, upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan komunikasi efektif, baik verbal maupun non-verbal.

C. Berbicara Membantu Mendapatkan Kebutuhan

Dari pemaparan tersebut, dapat dijelaskan bahwa komunikasi memiliki perasn utama dalam membantu seseorang untuk mendapatkan kebutuhannya. Kecakapan komunikasi menjadi alat utama seseorang untuk menyampaikanapa yang diinginkannya. Dengan demikian, kecakapan komunikasi menjadi sangat penting bagi kehidupan seseorang.

Jika mau menengok sejenak kesuksesan seseorang, kita pasti akan menemukan kecakapan komunikasi sebagai mesin pendorong utama kesuksesan seseorang. Steve Jobs adalah salah satu tokoh sukses yang tidak diragukan lagi kecakapan komunikasinya. Dari catatan-catatan di buku biografinya, kita bisa melihat bahwa Jobs adalah orang yang berkemampuan tinggi dalam mempengaruhi orang lain. Ia juga disebut sebagai seorang negosiator yang ulung. Dari dua hal tersebut saja, kita dapat menyimpulkan bahwa Steve Jobs memiliki kecakapan komunikasi tingkat tinggi. Ia sangat menguasai seni komunikasi efektif.

Hal-hal yang berkaitan pentingnya kecakapan komunikasi akan dibahas lebih lanjut di dalam buku ini. Pun, akan dibahas dengan tuntas bagaimana caranya agar kita menguasai seni komunikasi efektif. Dengan seni komunikasi efektif, kita akan lebih dimudahkan dalam mendapatkan apa yang kita butuhkan dengan cara yang lebih bermartabat.

Manfaat Dahsyat Kemampuan Berbicara

Jika menilik lebih mendasar, dalam bermasyarakat dan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, seseorang melakukan komunikasi dengan seseorang yang lain atua dengan sekelompok orang. Sebagaimana dipaparkan pada bagian-bagian sebelumnya, ada banyak komponen yang perlu dipenuhi agar komunikasi berjalan dengan baik.

Komunikasi yang baik sangat penting agar keselarasan dan keharmonian kehidupan dapat mewujud. Ketika kita melakukan komunikasi yang baik dengan orang lain, maka orang lain tersebut akan merasa nyaman berbicara dengan kita. Dia akan selalu "membutuhkan" keberadaan kita sehingga nantinya kita mendapatkan "keuntungan-keuntungan" yang kita perlukan.

Berbicara adalah komponen penting yangharus dikuasai semua orang saat berkomunikasi dengan orang lain. Berbicara dapat membuat orang-orang yang berkomunikasi dengan kita tertarik kepada kita. Mereka akan sangat menghormati dan  menghargai kita. Dengan demikian, kita akan dengan mudah mempengaruhi mereka untuk tujuan-tujuan yang positif.

Berbicara ini akan memberikan nilai lebih kepada diri kita daripada beberapa orang yang pernah berbicara dengan kita. Dengan gaya komunikasi yang baik diharapkan orang lain yan gmenjadi lawan bicara kita menjadi tertarik dengan apa yang kita ingin sampaikan kepada mereka. Selain itu, kita juga akan semakin mudah untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari lawan bicara kita.

Apabila Anda seorang marketing tentunya Anda harus mempunyai keahlian dalam menghadapi para klien atau konsumen yang sedang Anda dekati untuk membeli produk Anda. Apabila Anda seorang trainer, reporter, penyiar radio. orator atau bahkan orang biasa sekalipun akan sangat penting menguasai kemampuan bicara.

Mampu menguasai teknik ini akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. Contohnya, Anda dapat melancarkan "pengaruh" untuk mendapatkan cinta dari lawan jenis Anda dengan cara dan gaya yang asyik. Orang yang jadi incaran Anda juga tidak akan kebingungan dan bosan dengan seni bicara Anda.

Beberapa hal lain yang perlu dicatat akan manfaat dari kemampuan berbicara antara lain:
  • Menjalin interaksi dengan orang lain dengan lebih baik.
  • Komunikasi dengan antarindividu dan kelompok menjadi lebih efektif.
  • Melancarkan pertukaran informasi.
  • Menambah kepercayaan diri.
  • Menambah kharisma dan wibawa
  • Salah satu faktor mempermudah memperoleh pekerjaan.
  • Menambah level nilai dalam diri.
  • Bisa mendapat kepercayaan dari masyarakat.
  • Sebagai penyamapai pendapat agar dapat diterima oleh masyarakat luas atau yang berkaitan.
  • Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan akan sesuatu hal. Melalui berbicara nantinya akan terjadi transfer ilmu antara pihak satu dengan pihak lainnya.
  • Dapat berguna untuk membujuk dan mempengaruhi orang lain. Biasanya komunikasi semacam ini banyak mengandung unsur-unsur persuasif.
  • Dapat mengenali diri sendiri.
  • Guna mengurangi ketegangan atau mencairkan suasana. Misalnya, ketika ada pertikaian atau perselisihan pendapat dalam rapat tertentu.
  • Sebagai hiburan, misalnya, ketika Anda sedang jenuh kemudian menghubungi teman jauh untuk sekedar mengobrol santai.
  • Dapat digunakan untuk selalu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.
  • Benteng diri agar tidak terisolasi dalam lingkungan masyarakat.
  • Dapat dimanfaatkan untuk mempelajari situasi yang terjadi.
  • Dapat mengubah sikap maupun perilaku.
  • Digunakan untuk mengawasi serta melakukan pengendalian atas suatu kegiatan.
  • Menjauhkan dari kesalahpahaman.
Keuntungan-keuntungan jika kita menguasai kemampuan berbicara yang tersebut di atas adalah sebagian kecil saja. Anda masih bisa menemukan keuntungan-keuntungan lain setelah Anda mempraktikkan kemampuan berbicara yang diuraikan dan dipaparkan pada bab-bab selanjutnya. Anda akan menjadi pusat perhatian dan selalu menarik untuk didengarkan orang lain.

Berbicara Sesuai Waktu dan Tempat Itu Mudah

Semestinya, berbicara tidak dianggap sebagai persoalan yang remeh. Sebab, berbicara adalah aktivitas yang dapat menentukan bagaimana keberlangsungan sebuah hubungan. Berbicara yang sembarangan, tidak mengenal waktu, tidak mengenal lawan bicara dan mengabaikan posisinya, yang demikian itu tentu tidak benar.
    
Diakui atau tidak, orang jarang sekali memiliki kemampuan berbicara sesuai etika. Etika yang dipraktikkan dalam berbicara inilah yang nantinya akan menghasilkan keindahan atau seni.

Berbicara yang enak di dengar dan mudah dipahami serta tidak melebar keluar topik pembicaraan adalah bagian dari seni bicara yang secara teknis merupakan bentuk-bentuk etik dari berbicara. Dengan demikian, etika berbicara ini pada dasarnya menjadi unsur penting dalam kemampuan seni berbicara. Dengan kemampuan seni berbicara maka kita akan terlihat lebih menyenangkan dan memikat.

Kemampuan seni bicara yang berfokus pada etika akan diuraikan berikut ini. Manfaatnya, kita akan mengetahui kode etik dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Dengan begitu, kita akan memiliki pengaruh besar sehingga akan dengan mudah memikat lawan bicara kita.

A. Fokus kepada Lawan Bicara

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain dengan memberi prioritas kepada lawan bicara maka kita akan lebih fokus. Ketika kita fokus tentunya lawan bicara akan mudah mendapatkan maksud pembicaraan. Jangan sampai Anda berpaling dari lawan bicara, karena topik pembicaraan akan pecah dan tidak jelas.

Fokus bukan berarti memandanginya dengan konsentrasi penuh pada saat Anda berbicara maupun pada saat Anda mendengar lawan bicara Anda berbicara. Fokus di sini adalah tidak melakukan komunikasi atau kegiatan lain ketika berbicara dengan lawan bicara Anda.

Di zaman ini, sangat jamak kita lihat ada dua orang dalam satu meja, misalnya saya dan Anda. Anda berbicara (bercerita) dan yang saya lakukan hanyalah bermain-main dengan handphone-nya. Kadang-kadang saya memberi respons dengan pertanyaan atau jawaban yang seadanya dan bahkan kadang-kadang saya perlu bertanya lagi apa yang Anda bicarakan.

Tentu saja, jika hal ini kita alami, akan membuat suasana pembicaraan menjadi hancur. Ketika suasana pembicaraan hancur, maka pesan-pesan yang Anda sampaikan tidak pernah terekam dalam pikiran saya. Selain tidak benar dalam proses komunikasi, tentu saja hal tersebut tidak benar pula dalam etika.

B. Jaga Kualitas Suara

Dengan menjaga kualitas suara akan menghasilkan suara yang baik. Suara yang baik tentunya disesuaikan dengan lawan bicara. Apabila lawan bicara adalah orang tua lanjut usia tentunya dengan lirih dan sopan, namun tetap mengedepankan kejelasan ucapan. Sesuaikan lawan bicara, jangan sampai suara Anda menyakitkan hati lawan bicara.

Berbicara dengan suara lantang terus menerus juga tidak perlu dilakukan pada saat kita berbicara dengan orang tua yang sudah terganggu pendengarannya. Merendahkan suara pada level paling rendah, justru membuat pesan dapat ditangkap oleh lawan bicara kita.

Ketika Anda akan berpidato di depan umum. Anda sudah memiliki rencana untuk mempengaruhi orang lain (audiens). Jika pada saat Anda berpidato, Anda menggunakan suara yang tidak baik, misalnya terlalu lantang, setengah berteriak dan sangat pelan, maka jika tidak dikendalikan akan merusak suasana hati para pendengar Anda.

Cara yang paling tepat pada saat Anda berpidato adalah dengan menggunakan suara yang baik. Tidak perlu Anda berteriak-teriak kesetanan untuk menyampaikan pesan yang Anda maksud untuk mempengaruhi orang lain. Memainkan intonasi, volume dan kekuatan suara adalah cara yang paling tepat pada saat Anda ingin mempengaruhi orang lain.

C. Pemilihan Kosakata yang Sesuai Etika

Lupakan dan jauhkan komunikasi yang Anda lakukan dari kosakata yang tidak sesuai etika. Walaupun Anda sedang tidak dalam kondisi emosi yang stabil, sebaiknya jaga ucapan kita dari perkataan kotor. Perkataan kotor akan merusak pembicaraan dengan lawan bicara. Walaupun kadang lawan bicara "nyambung", tetapi efek dari perkataan kotor itu yang mencerminkan pribadi kita di mata lawan bicara.

Seorang yang berpengaruh memiliki karakter yang positif. Ketika Anda berbicara kotor, karakter Anda akan autonegatif. Ketika itu terjadi, lawan bicara akan melakukan penilaian final bahwa Anda suka bicara kotor yang pada akhirnya akan berakibat Anda tidak akan menjadi pribadi berpengaruh.

D. Ornamen Senyuman dalam Pembicaraan

Wajah paling sempurna adalah wajah yang tersenyum. Senyuman dapat membuat lawan bicara kita luluh hatinya. Ketika lawan bicara belum mengatakan sesuatu tetapi kita sudah memberikan sebuah hadiah yang enak dipandang mata, yaitu "senyuman" maka akan menghasilkan sebuah pengikat interaksi.

Senyuman adalah salah satu seni dalam mempengaruhi orang lain. Ketika Anda datang kepada orang lain dengan raut muka tegang, maka orang tersebut sejujurnya ingin sekali menghindari pembicaraan dengan Anda.

Kalaupun dia bertahan, itu karena takut. Pada akhirnya, walaupun Anda bisa mempengaruhinya untuk melakukan sesuatu, namun orang tersebut melakukannya bukan kerelaan, tetapi dengan ketakutan.

E. Berjabat Tangan

Sebelum berbicara dan sesudah berbicara dengan orang lain, alangkah baiknya dengan berjabat tangan. Jabat tangan akan menunjukkan keakraban. Selain itu, jabat tangan juga sebuah upaya untuk menaklukkan lawan bicara kita, bahkan sebelum kita berbicara.

Selain tersenyum, kita juga dapat melakukan pendekatan yang kuat dengan cara berjabat tangan atau meletakkan tangan di atas dada sendiri. Kedua hal tersebut adalah sebagai isyarat Anda menghargai orang lain sebagaimana Anda menghargai diri sendiri.

Etika dalam berbicara itu penting untuk kita perhatikan. Oleh sebab itu, konsep etika berbicara sangat penting sekali untuk kita kuasai pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain, baik jumlah audiensnya satu maupun banyak. Etika berbicara akan menghadirkan seni berbicara yang berkualitas dan menyenangkan. Sehingga, hal ini akan dapat meningkatkan daya tarik Anda sehingga Anda menjadi pribadi yang elegan dan berpengaruh yang mampu menaklukkan orang lain.

Comments